AGENDA LALU

ALTERAKSI di FFD

Bagian dari pembukaan program “The Feelings of Reality” di Festival Film Dokumenter ke-17 di Yogyakarta,

sesudah pemutaran film SOIna – Special Olympics Indonesia.


Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta, 9 Desember 2018

Untuk pertama kalinya Alteraksi ke luar Jakarta. Kami diundang untuk mengadakan sesi diskusi interaktif dalam Festival Film Dokumenter ke-17 (FFD) setelah pemutaran film dokumenter SOIna – Special Olympics Indonesia (Anom Bayu Santoso, 2008) di Taman Budaya Yogyakarta pada 9 Desember 2018.

Pemutaran film SOIna dan sesi Alteraksi merupakan bagian dari peluncuran The Feelings of Reality, program FFD 2019–2020 yang melibatkan sutradara pilihan untuk memproduksi film-film yang peka terhadap isu disabilitas. Pada peluncuran program ini, kami diundang untuk menerapkan Alteraksi demi menghimpun gagasan dan isu-isu penting terkait disabilitas, langsung dari penonton setelah sesi pemutaran SOIna, sebuah film tentang kiprah para remaja penyandang disabilitas mental dalam mengikuti Special Olympics Indonesia.

Para penonton yang menjadi peserta Alteraksi terdiri dari publik umum, pekerja LSM, dan penyandang disabilitas, dengan usia bervariasi: dari 20-an sampai 50-an tahun. Sesudah pemutaran, kami mengajak kedua puluh empat peserta saling berkenalan dengan menggunakan kartu Lontar Suara, yang berisi pertanyaan mengenai “karakter khas diri yang sulit dimengerti orang lain”. Setelah menuliskan jawaban pada kartu masing-masing, setiap peserta memperkenalkan diri sekaligus melontarkan jawaban mereka.

 

Dengan kartu Lontar Suara, setiap peserta bisa langsung mengenal peserta lain lebih daripada sekadar nama dan profesi. Jawaban peserta beragam. Ada yang bilang dirinya terlalu berterus terang, terlalu keras berpendapat, terlalu pendiam, sulit bertutur runut, tidak percaya diri, sensitif, penyendiri, dan sering memendam emosi dan ekspresi. Ada pula yang bilang dirinya terlalu mengandalkan diri sendiri, punya kesabaran yang tinggi.

Setelah sesi perkenalan, peserta diminta membentuk empat kelompok. Mengambil topik film SOIna, kami mulai bertukar pandang, diawali dengan menanyakan apa prestasi penonton pada masa kecil yang paling dibanggakan. Ada penonton yang bangga karena pernah mendapat nilai terbaik dalam Ujian Nasional, menjadi juara angkat beban di Para Games, juga bangga karena setelah kuliah dan jauh dari orangtuanya justru jadi lebih peduli lingkungan. Jawaban-jawaban tersebut kemudian dikaitkan dengan pertanyaan kedua: faktor-faktor pendukung—individu, keluarga, dan komunitas atau lingkungan—yang membuat mereka bisa mencapai prestasi itu. Dari sini, peserta diajak bersama-sama mengenali apa saja faktor pendukung yang terkait dengan disabilitas.             

    

Semua sesi tersebut merupakan pemanasan bagi sesi puncak: setiap kelompok diminta untuk mengidentifikasi apa saja yang sudah ada dan apa saja yang masih kurang dalam pelayanan publik dan kebijakan terkait disabilitas di Indonesia. Juru bicara setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Hasilnya adalah beragam catatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan kebijakan terkait disabilitas. Salah satunya, menjadikan seluruh transportasi yang ramah bagi penyandang disabilitas, penyediaan bahasa isyarat di televisi publik, maupun pelibatan penyandang disabilitas dalam musyawarah desa. Dalam hal kebijakan, salah satunya, perancangan berbagai peraturan turunan dari UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas.

 

Pada akhir sesi, peserta menuliskan kesan mereka atas proses fasilitasi ini sebelum foto bersama. Banyak dari mereka merasa senang karena proses tersebut menciptakan interaksi yang berarti, menghimpun pengetahuan baru, serta membuka kemungkinan kerjasama dengan pihak lain. 

MITRA KOLABORASI

forumFD.png