AGENDA LALU

ALTERAKSI: "Generasi Keterusan"

 Bagian dari program Desember kineforum "Generasi Keterusan" 

7-16 dan 14 Desember 2018 di KINEFORUM, Jakarta 

Alteraksi di Kineforum kali ini berbeda. Jika biasanya kami bekerjasama dalam penggunaan ruang pemutaran, kali ini kami berkolaborasi dalam program Kineforum, “Generasi Keterusan”. Alteraksi kali ini mendorong interaksi di dalam dan luar gedung bioskop Kineforum melalui dua kegiatan kami: Dinding Suara dan Tukar Pandang. Dinding Suara bertempat di teras Kineforum sepanjang program berlangsung. Sementara Tukar Pandang diadakan sesudah pemutaran film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta (Benni Setiawan, 2010). Melalui Dinding Suara dan Tukar Pandang, kami turut membicarakan Generasi Keterusan: bagaimana hubungan dan tegangan antar-generasi yang bisa sama-sama keterusan, dari yang terekam dalam film hingga yang dimaknai dalam hidup sehari-hari.
1/9
7-16 Desember 2018
Teras KINEFORUM

Dinding teras Kineforum, tempat penonton menunggu film diputar, kami sulap menjadi Dinding Suara. Ini kali pertama kali kami menerapkan Dinding Suara—kegiatan terbaru kami setelah Nonton Film, Tukar Pandang, dan Lontar Suara. Menampilkan dua pertanyaan yang relevan dengan tema program, Dinding Suara memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk melontarkan harapan, penyesalan, maupun unek-unek yang mungkin selama ini diabaikan—tempat berbagi mengenai Yang Luput dan Yang Nyaris. Siapapun penonton yang lewat bebas menuliskan aspirasinya memakai kapur yang disediakan. Begitu penuh, dinding itu dipotret untuk keperluan dokumentasi lalu dihapus supaya keesokan harinya bisa direspons lagi oleh penonton lain.
1/6
Jumat, 14 Desember 2018, 17.00, KINEFORUM

setelah pemutaran 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta

Film komedi romantis 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta bercerita tentang pasangan yang tidak direstui keluarga dan lingkungannya karena berbeda agama. Tukar Pandang kali ini mengajak penonton bertukar pandang mengenai kenyataan keragaman nilai antar-generasi dan bagaimana kita perlu melakoninya.

 

Sesi diawali dengan mengidentifikasi nilai-nilai yang dipertentangkan dalam film. Setelah itu, ketujuh peserta diminta menceritakan pengalaman dilematis mereka soal perbedaan nilai antar-generasi. Ada peserta yang pernah dianggap masalah karena membaca buku-buku kiri, ada yang dilarang merantau, ada pula yang punya kakak yang hijrah setelah ditinggal pacar.

 

Setelah itu peserta diminta membahas pemikiran-pemikiran dominan yang menurut mereka sudah usang. Salah satu jawaban peserta adalah antikritik, menjadi PNS setelah lulus kuliah, kerja kantor demi penghasilan tetap, merasa selalu terancam oleh perbedaan, dan penuh prasangka.

 

Pertanyaan itu merupakan pendahuluan dari pertanyaan pamungkas: lima nilai apa—yang saat ini belum dominan di masyarakat—yang menurut mereka penting untuk dipegang oleh anak-anak mereka nanti? Bukan pertanyaan mudah. Apalagi bagi salah seorang peserta yang tidak terpikir untuk punya anak.

 

Para peserta lalu menjawab bahwa mereka ingin anak-anak mereka nanti menjadi seorang profesional, memiliki kebebasan, paham konsekuensi, punya empati, bertanggung jawab, punya kepekaan sosial, konsekuen, punya kemampuan membaca—dari buku hingga situasi, paham bahwa It’s OK not to be OK, adaptif dengan zaman, punya karakter, menjadi diri sendiri, banyak mendengar, dan toleran atas keragaman.

 

Sesi Alteraksi kali ini diakhiri dengan sebuah kejutan. Kineforum dikunjungi penulis skenario dan sutradara 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta, Ben Sohib dan Benni Setiawan. Para peserta Alteraksi yang ingin bergabung kemudian lanjut mengobrol di teras Kineforum, bertanya lebih jauh soal proses pembuatan film yang barusan mereka tonton. Bincang-bincang itu berlangsung selama hampir satu jam, diakhiri oleh waktu makan malam dan rasa lapar setiap orang.

 

Alteraksi kali ini juga menjadi kali terakhir Alteraksi diadakan di Kineforum, yang ruang bioskopnya pada 2019 akan dibongkar demi peremajaan Kompleks Taman Ismail Marzuki. 

MITRA KOLABORASI