AGENDA LALU

ALTERAKSI di SMU Fons Vitae 1 Marsudirini

Selasa, 11 Desember 2018

1/9

Ini kali pertama Alteraksi masuk ruang kelas. Bekerjasama dengan SMA Fons Vitae 1 Marsudirini di Jakarta melalui guru sejarah Luqman Abdul Hakim, kami mengadakan Alteraksi di Kelas XI MIPA 3 pada 11 Desember 2018 selama dua jam pelajaran dengan kegiatan Nonton Film dan Tukar Pandang.

 

Di ruang kelas itu kami memutar Sowan (Bobby Prasetyo, 2014), sebuah film pendek Indonesia tentang upaya Mien mengajak suaminya yang bekas tentara mengunjungi Murti, teman lamanya, seorang mantan tapol yang ternyata masih hidup. Sowan mereka adalah upaya rekonsiliasi. Pada masa lalu, Mien gagal mencegah suaminya menangkap Murti sekeluarga. Rasa bersalah membuat Mien meminta Her, anaknya, untuk mengantarkan dirinya dan suaminya menemui Murti. Namun, ide sowan Mien ternyata tidak mudah diterima suaminya. Sowan adalah film pertama yang mengangkat upaya rekonsiliasi dari sudut pandang keluarga militer dan berhasil menunjukkan bahwa dalam peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia itu kedua belah pihak, baik penyintas maupun pemberantas, adalah korban rezim Orde Baru.

 

Setelah Nonton Film, fasilitasi Tukar Pandang mengajak para siswa untuk berempati dengan cara memahami motivasi karakter film. Pertama-tama, para siswa diajak berkenalan kembali dan menceritakan perasaannya setelah menonton Sowan kepada kawan-kawan sekelasnya. Ada yang merasa sedih, prihatin, kecewa, sampai penasaran. Kepada siswa juga ditanyakan mengenai karakter dalam film yang paling berkesan bagi mereka.

 

Selesai sesi individu, dua puluh dua siswa itu diajak membentuk empat kelompok diskusi. Dua kelompok diminta fokus pada karakter Mien, sisanya pada Si Bapak. Pertanyaan untuk kelompok Mien adalah, “Mengapa penting bagi Mien agar suaminya bertemu lagi dengan Murti?”. Sementara pertanyaan untuk kelompok Si Bapak, “Mengapa si Bapak ngotot tidak mau bertemu Murti?”. Setiap kelompok diminta menghasilkan lima jawaban.

 

Dengan ungkapan yang berbeda-beda, para siswa memahami bahwa Mien yang merasa bersalah ingin mengajak suaminya turut bertanggung jawab dan bersama-sama minta maaf kepada Murti. Salah satu kelompok bahkan menegaskan bahwa bisa jadi Mien khawatir tidak akan dimaafkan bila ia tidak membawa suaminya. Dari sisi lain, besar kemungkinan Si Bapak tetap merasa tindakannya dulu itu benar, karena ia seorang tentara yang menjalani perintah, tapi rasa kemanusiaannya tetap membuatnya merasa bersalah sekaligus malu mengakuinya.

 

Kami lalu memberikan pertanyaan lanjutan, "Apa yang bisa dilakukan Si Bapak agar istrinya bisa merelakan dirinya tidak ikut sowan?" Di sisi lain, "Apa yang dapat dilakukan Mien agar suaminya mau ikut sowan?"

 

Pertanyaan berandai-andai ini—yang berkebalikan dengan akhir cerita Sowan—membuat siswa semakin antusias berdiskusi. Ada yang mengusulkan agar Si Bapak mengakui rasa malu dan bersalahnya kepada istrinya atau menjelaskan bahwa tindakannya sebagai tentara mematuhi perintah juga merupakan upaya mereka bertahan hidup saat itu. Dari kelompok yang membahas Mien, ada yang mengusulkan agar Mien meyakinkan suaminya dengan menanamkan empati. Ada pula yang dengan bercanda mengusulkan agar Mien mengelabui suaminya saja, baik dengan membiusnya atau pura-pura sakit lalu tujuan perjalanan mereka menuju rumah sakit berubah di tengah jalan. Ide-ide liar siswa sangat menyegarkan suasana.

 

Sesi fasilitasi kemudian ditutup dengan pertanyaan kepada setiap siswa tentang siapa sosok yang menjadi tempat mereka bercerita jika mengalami dilema. Selain dengan orangtua dan saudara kandung, kebanyakan siswa menjawab bahwa mereka selalu bisa menceritakan persoalan mereka dengan sahabat mereka. Kegiatan yang turut didokumentasikan oleh pembuat video Angga Dennis ini berakhir bersamaan dengan jam pulang sekolah.