AGENDA LALU

ALTERAKSI #2

1-5 November 2018

KINEFORUM dan ESTUBIZI, Jakarta

Sebagian orang menunggu mati untuk menebus kesalahan—dosa semasa hidupnya bakal dicuci melalui penyiksaan demi kembali suci untuk masuk surga abadi yang dijanjikan. Sebagian lain menghindar sebisa-bisanya. Tapi, yang tak diinginkan bisa datang tiba-tiba—ia bisa berupa tudingan semena-mena, ganjaran yang setimpal, masa lalu yang menghantui, atau peristiwa yang menguji nurani.

 

Kelima film dalam Alteraksi #2 menampilkan tokoh-tokoh dalam situasi semacam itu. Dalam Elevator to the Gallows, dua pasang kekasih berusaha kabur dari kejahatan mereka. Dalam Land of Mine, sekelompok remaja dipaksa menebus dosa bangsa mereka. Sementara dalam Silver Linings Playbook, dua orang patah hati berusaha menebus kesalahan mereka dan memaafkan diri mereka sendiri.

 

Selain ketiga film panjang produksi Prancis, Denmark, dan Amerika tersebut, Alteraksi #2 menampilkan dua film pendek asal Indonesia yang dipilih khusus oleh seorang kurator tamu: Adrian Jonathan Pasaribu, editor Cinema Poetica. Kedua film ini berkisah tentang orang-orang yang mengubur dan menghadapi masa lalu mereka. Film pertama, Pulang Tanpa Alamat, tentang upaya menguburkan sahabat bandit yang mati mendadak, dan Sowan, upaya mengunjungi sahabat lama yang baru bebas dari tahanan.

 

Alteraksi #2 diadakan di Jakarta: Kineforum pada 1-3 November 2018 dan Estubizi pada 5 November 2018. Setiap film dalam program ini disambung dengan beragam kegiatan interaktif penonton: Dialog, Lontar Suara, dan Tukar Pandang. Selama 4 hari, dalam 6 slot pemutaran di 2 lokasi pemutaran, Alteraksi #2 ditonton oleh 93 penonton yang sebagian besar di antaranya turut mengikuti kegiatan interaktif setelah pemutaran.

ascenseur-pour-l-echafaud2.jpg

Elevator to the Gallows

Louis Malle, 1958, 91 menit, 15+

Jumat, 2 November 2018, 17:00
+ DIALOG

Pembicara: Lana Kristanto   

(MSc. Human Decision Science) dan Miko Ginting (dosen hukum pidana di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera). 

di KINEFORUM
 

MV5BMTY3NDYxOTU4Nl5BMl5BanBnXkFtZTgwNjQx

Land of Mine
Martin Zandvliet, 2015
101 menit, 15+

Jumat, 2 November 2018, 19:30
+ LONTAR SUARA

 

Sabtu, 3 November 2018, 15:00
+ TUKAR PANDANG

di KINEFORUM

MV5BMTM5MjczNzM3NF5BMl5BanBnXkFtZTcwMjg4

Silver Linings Playbook

David O’Russell, 2012
122 menit, 15+

Sabtu, 3 November 2018, 19:30
+ LONTAR SUARA

di KINEFORUM

SESI FILM PENDEK
 

Kamis, 1 November 2018, 18:00
+ TUKAR PANDANG
di KINEFORUM


Senin, 5 November 2018, 17:30
+ TUKAR PANDANG
di Estubizi

Screen Shot 2018-10-05 at 5.55.36 PM.png

Pulang Tanpa Alamat
Riyanto Tan Ageraha, 2015
24 menit, 15+

Sowan_3.jpg

Sowan
Bobby Prasetyo, 2014
18 menit, 15+

1/11
Jumat, 2 November, 19.30, KINEFORUM

setelah pemutaran Land of Mine 

Jika Anda tidak akan bertemu lagi dengan orang yang pernah begitu berjasa dalam hidup Anda, apa yang ingin Anda  sampaikan kepadanya? Pertanyaan itu yang kami lontarkan kepada penonton begitu Land of Mine selesai diputar. Sebelumnya, sebagai pengantar pertanyaan, kami mengajak penonton membayangkan diri menjadi empat tentara remaja tersisa dalam Land of Mine, yang mungkin saat mereka dewasa akan selalu teringat kepada Sersan Carl yang akhirnya membebaskan mereka. Kami meminjam emosi yang sama-sama dirasakan penonton setelah menyaksikan film yang sangat menggugah itu lalu mengarahkannya pada memori atas seseorang yang berperan penting dalam hidup mereka. Setelah menuliskan jawaban pada kartu Lontar Suara, satu per satu penonton memperkenalkan diri dan mengungkapkan jawaban mereka kepada penonton lain. Sebagian penonton berterima kasih kepada kawan dan pasangan yang membuka pikiran, mengenalkan pada dunia baru, atau menemani mereka pada saat-saat krisis. Penonton lain berterima kasih kepada mentor yang murah hati dan ilmu dan guru yang sejak awal mempercayai potensi mereka. Sebagian lain berterima kasih kepada sosok orangtua—baik seorang Ibu yang selalu menerima dan memahami, seorang kepala sekolah yang menampung saat orangtua harus mendadak dinas di negara lain, maupun seorang kakek yang pernah menjadi pengganti orangtua. 
1/19
Sabtu, 3 November, 19.30, KINEFORUM

setelah pemutaran Silver Linings Playbook

Setelah pemutaran Silver Linings Playbook, kami bertanya kepada penonton tentang karakter khas mereka yang sulit dimengerti orang lain—salah satu persoalan penting yang dibahas dalam film tersebut. Setelah menuliskan jawaban pada kartu Lontar Suara, masing-masing penonton mengungkapkan jawaban mereka kepada penonton lain. Sebagian penonton merasa dirinya terlalu pendiam, sensitif, tertutup, sulit memutuskan, maupun tidak ekspresif. Sebagian penonton lain merasa dirinya terlalu idealis, tidak suka diatur, gamblang dalam berpendapat, sangat logis, sangat ekspresif, maupun selalu tampak senang. Hal-hal itu, yang mereka terima sebagai bagian dari diri mereka, seringkali membuat mereka sulit diterima dan dipahami orang lain.
1/4
Jumat, 2 November, 17.00, KINEFORUM

setelah pemutaran Elevator to the Gallows

Pembicara: Lana Kristanto (MSc. Human Decision Science)dan Miko Ginting (dosen hukum pidana di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera). Moderator: Rival Ahmad (Besiberani).

Dalam Dialog ini, film kriminal Elevator
to the Gallows
dijadikan pemantik untuk membicarakan kesalahan dan pidana.
Miko Ginting berbagi pengetahuannya soal hukum pidana, terutama tentang mengapa kejahatan tertentu dihukum lebih berat dari kejahatan lain, dan bagaimana peran seseorang dalam konspirasi kejahatan menentukan tingkat hukumannya. Di sisi lain, Lana Kristanto membahas bagaimana manusia memutuskan sesuatu, mengapa manusia sulit berubah, juga bahwa manusia lebih sering memutuskan atau memilih sesuatu yang paling menguntungkan bagi dirinya. 
1/17
Kamis, 1 November, 18.00, KINEFORUM

setelah pemutaran Pulang Tanpa Alamat dan Sowan

Dalam Tukar Pandang ini, kedua film

pendek, Pulang Tanpa Alamat dan Sowan, dijadikan pemantik diskusi sosial. Awalnya, penonton yang dibagi dalam dua kelompok diajak mengidentifikasi kejadian-kejadian yang tak diduga karakter dalam kedua film itu. Mereka juga diminta menunjukkan tanda-tandanya yang mereka sadari sebagai penonton. Setelah itu, penonton diajak menyebutkan apa saja skenario terburuk yang menurut mereka bisa terjadi pada 2019. Dua di antaranya: konflik sosial—dengan berbagai variasinya—akibat tegangan dua kubu dan sampah makanan akibat berkembangnya aplikasi pesan-antar. Masing-masing penonton kemudian membahas tindakan apa saja yang bisa dilakukan secara individu maupun kolektif untuk mencegah konflik tersebut. Proses Tukar Pandang kali ini didokumentasikan oleh fotografer Agung “Abe” Natanael.

1/11
Sabtu, 3 November, 15:00, KINEFORUM

setelah pemutaran Land of Mine

Ketegangan menonton Land of Mine sebagai pengalaman bersama penonton diolah dalam Tukar Pandang untuk membicarakan kesalahan dan langkah yang perlu ditempuh untuk memperbaikinya. Dibagi dalam dua kelompok, para penonton diajak mengingat kembali karakter-karakter dalam film yang berkesan bagi mereka. Selain itu, mereka diminta untuk mengingat kembali siapa orang yang bisa diandalkan dalam hidup mereka. Sesi Tukar Pandang kemudian membahas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan masing-masing penonton dan apa yang sekarang bisa mereka lakukan untuk memperbaikinya. Tukar Pandang kali ini didokumentasikan secara visual oleh Agah Nugraha, yang secara menarik merekam salah satu bagian prosesnya.
1/13
Senin, 5 November, 17.30, Estubizi

setelah pemutaran Pulang Tanpa Alamat dan Sowan

Seperti yang dilakukan di Kineforum, Tukar Pandang di Estubizi ini menjadikan kedua film pendek, Pulang Tanpa Alamat dan Sowan, sebagai pemantik bagi diskusi sosial mengenai potensi konflik pada 2019. Awalnya, para penonton diajak berkenalan dan menceritakan perasaan mereka mengenai kedua film pendek tersebut. Lalu, mereka diajak mengidentifikasi kejadian-kejadian yang tak diduga oleh karakter dalam film, juga menyebutkan tanda-tanda yang bisa mereka lihat. Pertanyaan kemudian dialihkan untuk membahas konflik apa saja yang mungkin terjadi pada 2019. Masing-masing penonton diajak memikirkan kegiatan-kegiatan apa saja yang bisa dilakukan secara individu dan kolektif untuk mencegah konflik tersebut. Ide-ide mereka beragam, dari lebih sering mengadakan kegiatan kumpul bareng, nonton bareng, donasi bareng, sampai bikin film-film bertema sosial. Ada pula ide memindahkan ibukota ke Kalimantan, bikin gerakan anti-radikalisme, penghapusan keterangan agama di KTP, peningkatan kualitas guru dan sekolah, sampai bikin mesin waktu agar bisa mengantisipasi masa depan. 

MITRA PENYELENGGARA

Logo Estubizi - Putih.png