AGENDA LALU

PRA-ALTERAKSI

Alteraksi tidak muncul tiba-tiba. Sebelum diberi nama, metode fasilitasi berbasis film dan penonton ini sudah diuji tiga kali dengan istilah dan dalam kegiatan yang berbeda—baik dalam pemutaran film, kelas kuratorial film, maupun kegiatan mandiri dengan penonton film. Setelah terbukti bisa diterapkan dan diikuti peserta dengan antusias, metode tersebut kami evaluasi kembali, lalu kami kembangkan menjadi beragam aktivitas. Semuanya terangkum dalam satu paket program bernama Alteraksi. 

SESI BUKA-BUKAAN #1

20 Januari 2018, KINEFORUM, Jakarta
Dalam program kineforum, "Kawah Candradimuka"
kineforum, sebuah program pemutaran alternatif di Jakarta, membuka kesempatan bagi kami untuk bereksperimen: menjadikan bioskopnya lebih dari sekadar tempat menonton film tapi juga sebagai ruang interaksi. Temanya: apa makna dan guna menjadi dewasa bagi generasi sekarang. Dipandu fasilitator Rival Ahmad selama hampir dua jam, 23 peserta secara aktif berbagi gagasan, wawasan, pemikiran, dan berdebat mengenai kedewasaan. Mereka pulang membawa beragam perspektif. 

SESI BUKA-BUKAAN #2

17 Februari 2018, KINEFORUM, Jakarta
Setelah pemutaran Cutie and the Boxer, dalam program kineforum "Pendar Petang"
 
Kali kedua kolaborasi dengan kineforum ini berbasis pada sebuah film dari program mereka, Cutie and the Boxer (Zachary Heinzerling, 2013), sebuah film dokumenter tentang dinamika hidup pasangan seniman asal Jepang di Amerika. Dipandu oleh fasilitator Ardi Yunanto selama hampir tiga jam, 21 penonton dalam 4 kelompok ditantang untuk berempati pada subjek film. Setiap kelompok merespons pertanyaan, mendiskusikannya bersama anggotanya, menyatakan pendapatnya kepada kelompok lain, lalu membahasnya bersama. Dari interaksi tersebut, peserta berbagi dan mendapat beragam perspektif tentang pilihan dan sikap hidup karakter dalam film, yang sekaligus mencerminkan diri mereka dalam hidup sehari-hari.

KELAS KURATORIAL FILM:

Menonton Penonton

24 Maret 2018, Sukabumi
Dalam Temu Komunitas Film 2018
Sebagai bagian dari Temu Komunitas Film 2018, Cinema Poetica mengadakan kelas kuratorial film. Tujuannya: peserta memahami aspek-aspek memilih dan memilah film, serta membingkai tema program pemutaran film. Metode yang lebih interaktif coba diterapkan di sini, dirancang bersama oleh Ardi Yunanto, Adrian Jonathan Pasaribu, dan Alexander Matius. Kelas ini menggunakan dua film pendek, Ijolan (Eka Susilawati, 2014) dan Kisah di Hari Minggu (Adi Marsono, 2017) sebagai bahan interaksi. Melalui rangkaian tanya-jawab, presentasi, dan diskusi kelompok, belasan peserta diajak mengalami langsung proses berpikir yang akan terjadi dalam benak individu seorang kurator pemutaran film saat merancang program. Melalui seluruh proses itu, peserta bisa melihat dan mengalami langsung betapa sebuah film dapat memantik pendapat dan interpretasi yang berbeda—dan dengan begitu, membayangkan calon penonton. Selama empat jam, peserta diajak melihat film dan kemungkinan interpretasinya dengan cara berbeda.